24 Aug 2017

PW IPM DIY Tanggapi Lima Hari Sekolah

IPM.OR.ID, YOGYAKARTA - Persoalan mengenai Program Penguatan Karakter atau Lima Hari Sekolah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), menjadi perhatian utama bagi masyarakat, terutama bagi kalangan pelajar.

Dalam rangka memperingati 72 Tahun Hari Kemerdekaan Indonesia. Pimpinan Wilayah (PW) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), gelar “Refleksi dan Diskusi”. Dengan tema “Pelajar dan Nasionalisme”, kegiatan ini dilaksanakan Selasa lalu (15/8). Tidak hanya tema yang menarik, PW IPM DIY juga memilih tempat yang nyaman, Alfalfa Susu & Yoghurt, Jl. Wates KM 3 Yogyakarta lah pilihannya. 

Duduk melingkar sambil selonjoran, Diskusi yang juga sekaligus membahas tentang kebijakan “Lima Hari Sekolah” terdapat 4 pemantik diskusi. Pemantik diskusi tersebut antara lain : Linta Ulinnuha Bahraine (Kabid Advokasi PW IPM DIY), Rifqi Alifa Bestari (Sekbid Perkaderan PW IPM DIY), Jujuk Indah Nilawati (Guru SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta), dan Sultan M. Al Ghazali (Ketua Umum PR IPM SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta).

Mengawali diskusi, sesekali menyeruput minuman, Linta selaku pemantik diskusi mengatakan bahwa PW IPM DIY mengadakan diskusi ini agar kawan – kawan IPM di DIY sendiri bisa responsif terhadap terhadap aturan atau kebijakan- kebijakan dari Pemerintah. Selain itu, dia juga memberikan penjelasan mengenai Program Lima Hari Sekolah atau yang dikenal dengan istilah Full Day School (FDS).

“Jadi teman-teman semuanya harus paham bahwa program “Lima Hari Sekolah” atau “Full Day School” ini adalah salah satu instrumen untuk Program Penguatan Karakter, yang mana program ini masuk dalam Nawacita-nya Presiden Jokowi. Hal inilah yang membuat IPM mendukung program ini.”, jelas Linta.

Menambahkan pendapat dari Linta sebelumnya, Rifqi Alifa Bestari atau disapa Alifa menyampaikan pandangannya terhadap Program Lima Hari Sekolah.

“Generasi saat ini telah dikategorikan sebagai “generasi z”, yang di mana ciri – cirinya adalah multitasking atau dalam artian sangat mahir menggunakan teknologi, sehingga semakin maju. Dari sini, pilihannya bisa menjadi dua, yaitu memanfaatkan teknologi atau diperbudak teknologi. Maka dari itu, Pemerintah berinisiatif melakukan “penguatan karakter” terhadap generasi muda yang sekarang.”, ujar Alifa.

Tidak hanya itu, Alifa juga menjelaskan terkait lima nilai dari Program Penguatan Karakter, antara lain : Gotong Royong, Religius, Intergritas, Nasionalis, dan Mandiri. Lanjutnya, dari lima nilai tersebut, diturunkan empat dimensi, seperti : olah hati (ethic), olah pikir (literacy), olah rasa (esthetic), dan olah raga (kinesthetic). Kemudian dari empat dimensi tersebut, mengintergrasikan tiga elemen, yaitu intrakurikuler, kurikuler, dan ekstrakurikuler. Ekstrakurikuler inilah yang menjadi kunci dari program atau kebijakan ini.

“MIsalnya, sekolah mau bekerjasama dengan Madrasah Diniyah (MADIN) untuk kegiatan ekstrakurikuler ini sangat bisa. Jadi sangat keliru kalau menganggap kebijakan “Lima Hari Sekolah” ini akan mematikan MADIN.”, imbuhnya.

Beralih ke suara guru, mbak Jujuk selaku guru di SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta menilai bahwa Program Penguatan Karakter ini sudah diterapkan sejak lama, bahkan sebelum program ini diluncurkan oleh Kemendikbud.

“Di SMP Muhammadiyah 2 Yogyakarta, ada sebuah kegiatan dari sekolah bernama ‘Katering Sekolah’ atau makan siang bersama di dalam lingkungan sekolahan. Dari kegiatan tersebut, siswa akhirnya juga bisa belajar, seperti belajar untuk antri, mengambil makanan beserta peralatan untuk makan, dan yang lainnya. Itulah salah satu contoh dari penguatan karakter.”, ujarnya.

Ibu Guru yang rahmah senyum ini juga menilai bahwa Program FDS ini adalah inovasi pendidikan di dalam sekolah, artinya saat pembelajaran tidak harus melulu di dalam kelas, bisa juga di luar kelas. Apalagi Menteri Pendidikan yang sekarang menginginkan agar sekolah di Indonesia ini tidak ketinggalan zaman. Tak lupa juga dia menanggapi adanya pro dan kontra kebijakan “Lima Hari Sekolah” yang sedang ramai dibahas ini

“Pelajar harus bisa jihad informasi, caranya dengan men- share hal – hal yang positif dari kebijakan ini. Karena kalau bukan kita, siapa lagi? Mari kita buktikan bahwa dengan Lima Hari Sekolah, kita bisa berprestasi sehingga tidak kalah saing dengan bangsa yang lain.”, kata Jujuk.

Mewakili suara pelajar, Sultan memberikan pandangannya terhadap kebijakan “Lima Hari Sekolah” ini. Menurutnya pribadi, kebijakan “Lima Hari Sekolah” itu sama saja dengan kebijakan sebelumnya.
“Menurut saya pribadi, program ‘Lima Hari Sekolah’ ini sama saja dengan dengan yang sebelum – sebelumnya. Maksudnya, mau diterapkan atau tidak, mau lima hari atau enam hari, sama-sama pulangnya tetap sore. Jadi ketika ini diterapkan, saya dan teman – teman di sekolah merasa tidak ada masalah dengan hal itu karena sudah terbiasa.”, imbuh Sultan.

Namun dia juga menyoroti keluhan teman – temannya di sekolah saat diterapkannya kebijakan “Lima Hari Sekolah” ini. Menurutnya lagi, pelajar – pelajar saat ini harus kembali lagi ke niat awal bersekolah.

“Kita kembali lagi ke niat awal bersekolah. Apa sih niat awal kita bersekolah? Yaitu, menuntut ilmu. Kalau dari awal saja sudah tidak ada niat untuk bersekolah, belajarnya nanti tidak akan berkualitas. Jadi pada dasarnya, mau lima hari sekolah atau enam hari, tetap harus fokus dengan pelajaran di sekolah.”, paparnya.

Selain itu, dia juga menilai bahwa kebijakan “Lima Hari Sekolah” ini tidak terlalu buruk, karena masih ada dua hari libur yang menurutnya, bisa dioptimalkan untuk belajar di luar sekolah, seperti belajar kelompok bersama teman-temannya. Bahkan saat di dalam rumah mempunyai banyak waktu untuk belajar apapun beserta kegiatan – kegiatan positif lainnya.

Di dalam diskusi ini, dihadiri pula beberapa personil PW IPM DIY, beserta teman – teman dari PD IPM Se- DIY. Semoga setelah ini, para pelajar bisa memahami lebih lanjut mengenai Program “Lima Hari Sekolah” atau “Five Day School” ini sehingga bisa menguatkan karakternya saat belajar di sekolah sehingga terwujud pelajar yang berkualitas dan bisa menghasilkan karya nyata untuk bangsa. *(dzik)