4 Apr 2017

Refleksi Perfilman Indonesia dari Masa ke Masa


Kamis (30/3) insan film Indonesia merayakan Hari Film Nasional. 67 tahun silam, tepatnya pada tanggal 30 Maret 1950 merupakan hari pertama pengambilan gambar film “Darah & Doa” atau “Long March of Siliwangi” yang disutradarai oleh Usmar Ismail sebagai Bapak Perfilman Nasional. Jika di telisik lebih dalam jauh sebelum tahun 1950 ternyata di Indonesia telah memiliki bioskop sejak tahun 1900. Bioskop tersebut diberi nama 'Gambar Idoep' dan resmi dibuka pada 5 Desember 1900 di Tanah Abang, Batavia. Sejarahpun mencatat, film yang pertama kali dibuat di Indonesia berjudul 'Loetoeng Kasaroeng' yang disutradarai oleh G. Kruger dan L. Heuveldorp di tahun 1926.
Dalam perjalanannya, dunia perfilman Indonesia sempat menjadi raja di negara sendiri. Terbukti pada era 1980-an, film Indonesia punya tempat tersendiri dihati masyarakat dan mampu merajai bioskop-bioskop lokal. Film-film yang terkenal pada saat itu antara lain, Catatan si Boy, Blok M dan masih banyak lainnya. Pada masa itu juga, lahir bintang-bintang muda yang terkenal diantaranya, Onky Alexander, Meriam Bellina, Lydia Kandou, Nike Ardilla, Paramitha Rusady, Desy Ratnasari.

Anjloknya dunia perfilman di Indonesia mulai dirasakan ketika memasuki tahun 90-an. Hal ini dapat ditinjau dari penurunan kuantitas film dan kualitas cerita yang hanya berkutat pada tema-tema orang dewasa. Disamping itu masuknya film luar dari Hollywood dan Hongkong mampu merebut tempat dihati penikmat film di negeri sendiri.

Walaupun sempat mengalami pasang surut, geliat kebangkitan perfilman nasional semakin tampak di era pasca reformasi. Saat itu bermunculan film-film dengan genre yang beragam seperti, film Petualangan Sherina (2000) yang disutradarai oleh Riri Riza dan Mira Lesmana yang mengambil segmen khusus anak-anak melalui film musikal yang disajikan sangat apik dan bermakna. Film tersebut menjadi tonggak awal kebangkitan film Nasional.

Selanjutnya menyusul sebuah film romantis Indonesia karya Rudi Soedjarwo yang dirilis pertama kali pada tanggal 7 Februari 2002, yang mampu melambungkan nama Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo. Film Ada Apa Dengan Cinta mampu menghapus dahaga setelah sekian lama industri perfilman di Indonesia terpuruk. Film ini juga bukan hanya diminati di dalam negeri, tetapi mampu menembus pasar Internasional dan ditayangkan di Malaysia, Brunei, Singapura dan Filipina.

Sampai saat ini warna film Indonesia semakin beragam. Munculnya film Laskar Pelangi yang sangat fenomenal dengan segelumit kisahnya yang banyak memberikan inspirasi dan syarat pesan moral yang diberikan kepada setiap pasang mata yang menonton film tersebut. Tidak sedikit pula film yang berhasil mengharumkan nama Indonesia dikancah perfilman Internasional sebut saja, The Raid, Headshot, Surat Dari Praha, Prenjak, dll.

Film merupakan salah satu sarana dan upaya untuk mendidik dan mengembangkan budaya, khususnya generasi muda bangsa. Industri perfilman di  Indonesia merupakan salah satu industri kreatif yang mampu dijadikan alat untuk menopang pertumbuhan ekonomi bangsa. Tetapi, kemajuan perfilman Indonesia yang tampak saat ini perlu disikapi secara kritis. Indonesia sangat ini butuh film yang memiliki ruh atau semangat mendidik dan menginspirasi ketimbang film yang hanya menonjolkan sisi kontroversi. Mengapa hal itu sangat diperlukan? Tentu saja demi terwujudnya generasi muda Indonesia yang cerdas dan berkarakter.

Bagaimanapun Hari Film Nasional harus dijadikan momentum setiap tahunnya, untuk evaluasi sejauh mana perkembangan film di Indonesia. Selain itu, diharapkan dukungan moril maupun materil bagi seluruh warga negara agar lebih mencintai karya anak negeri, sehingga bisa menjadi tuan rumah dinegeri sendiri dan stop pembajakan mulai saat ini.

Apresiasi sebesar-besarnya tentu harus kita berikan kepada insan perfilman Indonesia dan semua yang terlibat didalamnya. Tanpa mereka, amatlah sulit dunia perfilman Indonesia untuk dapat berkembang pesat. Berkat kegigihan mereka film Indonesia banyak meraih penghargaan, baik di Festival dalam negeri maupun International. Lewat tangan merekalah kejayaan dan masa depan perfilman Indonesia dipertaruhkan. Sukses selalu perfilman Indonesia, teruslah dan jangan pernah berhenti membuat karya nyata. Selamat memperingati Hari Film Nasional.

*) Penulis adalah SyahrianKetua PP IPM Bidang Apresiasi Seni Budaya dan Olahraga 2016/2018