19 Apr 2017

Ketum PP IPM : Pemilih Pemula Harus Cerdas


IPM.OR.ID, JAKARTA - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta putaran kedua dilaksanakan hari ini Rabu (19/04). Pilkada kali ini menarik perhatian masyarakat Indonesia khususnya pelajar yang merupakan pemilih pemula. Melihat banyaknya pemula dalam menggunakan hak pilihnya untuk sekedar memilih, dalam hal ini Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) menghimbau agar menggunakan hak pilih secara cerdas.

Velandani Prakoso selaku Ketua Umum PP IPM mengungkapkan rasa prihatinnya terhadap pemilih pemula yang sekedar ikut-ikutan. Menurutnya, secara umum pelajar termasuk dalam elemen masyarakat umum yang selalu menjadi objek politik. Mereka hanya dilirik masalah hitungan suara saja, tidak lebih dari itu. Hal tersebut tentu berakibat tidak tercapainya tujuan pendidikan politik itu sendiri yang selama ini merupakan proses bagaimana menjadi pemilih cerdas.

"Pemilih pemula yang notabenenya adalah pelajar hendaknya meletakkan diri sebagai subjek pendidikan politik itu sendiri, tidak melulu sebagai objek politik," tutur Andan sapaan akrabnya.

Andan mengungkapkan bahwa kemajuan perbaikan kesadaran dalam politik ialah kemajuan dalam memperbaiki atau menyadarkan masyarakat saat pemilihan seperti saat ini, memilih tanpa diikuti kepahaman dan kesadaran. Bukan melihat siapa yang banyak mengatakan janji. Tetapi, sadar akan kelebihan, kekurangan, serta track record-nya calon pemimpin yang akan dipilih nantinya.

Diingatkan pula oleh Andan bahwa yang terpenting saat ini dalam rangka penguatan civil society (masyarakat beradab) oleh karena itu salah satu langkah untuk penyeimbang atas kecenderungan mengontrol kekuasaan dalam pemerintahan Negara.

Civil society akan menguatkan suatu masyarakat politik yang demokratis, partisipatoris, reflektif dan dewasa. Sehingga dapat menyadarkan kembali kepada masyarakat bahwa merekalah pemegang kedaulatan dan memiliki hak untuk mengontrol kekuasaan. Disitulah terbentuknya pola demokrasi yang partisipatoris (melihat rakyat) bukan hanya menjadi demokrasi elit semata.

"Demokrasi elit sendiri merupakan upaya untuk menyampingkan rakyat setelah pemilihan umum. Setelah rakyat menjalankan haknya dan calon telah terpilih. Mereka menyampingkan aspirasi rakyat dalam menjalankan pemerintahan dan membuat kebijakan. Besar peluang kepentingan rakyat yang selama masa kampanye disuarakan itu terlupakan," ungkap Andan.


Jangan sampai Pilkada yang lalu menjadi pola yang berkelanjutan, "Saya berharap, sebagai warga Negara yang baik, kita hendaknya dapat mengembangkan kesadaran untuk ikut andil dalam pemilu yang cerdas", pungkas Andan. (yun/gal)