24 Mar 2017

Jangan Berwirausaha Kalau Tidak Siap Sukses!

PP IPM menerima penghargaan Sociopreneurship Tahun 2015
Ada anekdot menarik yang diceritakan oleh Ippho Santosa dalam bukunya “10 Jurus Terlarang” tentang kelebihan pengusaha dibanding profesi lainnya. Mau tau? Begini kisahnya:

Konon di depan surga berdirilah dosen, dokter dan ulama. Dulunya selama di dunia si dosen telah mendidik banyak mahasiswa, si dokter telah menyembuhkan banyak orang sakit dan si ulama telah membimbing banyak orang yang berdosa. Walhasil, masing-masing menganggap dirinya paling berjasa, sehingga merasa berhak untuk masuk surga paling dulu. Mereka pun berebut.
Tiba-tiba datanglah pengusaha. Anda tahu apa kata mereka? Si dosen langsung menyambut, “Nah ini dia pengusaha kita! Beliaulah yang membangun kampus kami.” Si dokter pun berseru, “Beliau juga banyak membantu klinik kami”. Si ulama turut melengkapi, “Beliau juga donatur tetap tempat ibadah kami”. Akhirnya mengingat jasa-jasa si pengusaha, maka baik dosen, dokter, maupun ulama rela untuk mengalah. Mereka bertiga sepakat untuk mempersilakan pengusaha untuk masuk surga paling dulu.
               
Menjadi pengusaha menjadikan kita memiliki banyak kesempatan untuk membantu orang lain. Berdagang pun menjadi pekerjaan Nabi Muhammad ketika muda. Bahkan Nabi Muhammad bisa menjadi kaya raya dalam usia muda. Begitupun sahabat-sahabat Nabi lainnya, banyak yang menjadi pengusaha sukses dan memberikan kontribusi besar bagi perkembangan umat islam. Sebut saja Abu Bakar Ash Shidiq, Usman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Auf, dll.
Tradisi berdagang oleh para pendakwah tidak hanya berhenti di zaman nabi. Penyebaran agama islam di Indonesia tidak terlepas dari peran pedagang asal Gujarat, India yang berdagang di Semananjung Aceh. KHA Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah pun memilih menjadi pengusaha batik sebagai sumber penghidupan keluarga. Bahkan, hasil berdagang batiknya menjadi sumber penghidupan Muhammadiyah di awal-awal berdirinya. Jadi dengan berdagang atau berwirausaha kita telah mencontoh nabi dan menjalankan tradisi baik para pendakwah.
Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan asyik, mengapa kita harus berwirausaha, simak ulasannya sebagai berikut:

Meningkatkan kesalehan sosial
                Usaha yang semakin berkembang tentu akan semakin banyak menyerap tenaga kerja. Dengan banyaknya tenaga kerja yang bekerja di tempat usaha kita, berarti kita telah membantu menyalurkan/ membuka pintu rezeki orang lain dari Allah. Secara otomatis kita bekerja tidak hanya bertanggung jawab terhadap diri kita atau keluarga kita, tapi juga bertanggungjawab terhadap kehidupan orang lain.
Inilah yang akan mendorong kita untuk memiliki rasa kepedulian lebih atau meningkatkan kesalehan sosial. Memperjuangkan usaha tidak hanya memperjuangkan keuntungan, tetapi juga memperjuangkan kebermanfaatan untuk orang lain. Mendirikan usaha berarti membuka lapangan kerja baru untuk orang lain, mengurangi angka pengangguran. Membuat orang lain lebih menggunakan waktu luangnya untuk kegiatan bermanfaat ketimbang menganggur. Ketika usaha sedang jatuh atau tertekan, maka ada dorongan sosial yang dirasakan seorang pengusaha untuk bangkit kembali. Karena ketika usahanya jatuh, banyak orang-orang yang akan merasa kesulitan atau bingung untuk memenuhi nafkah keluarganya.
                Dalam konteks makro, pengusaha tidak hanya membantu meningkatkan kesejahteraan orang lain, tetapi kesejahteraan suatu negara, keren kan?. Negara-negara maju umumnya memiliki persentase jumlah pengusaha yang tinggi dari total jumlah penduduknya. Contohnya negara sebelah kita, Singapura yang memiliki jumlah pengusaha sebesar 7%. Indonesia hanya memiliki 1,56% jumlah pengusaha, padahal Bank Dunia mensyaratkan standar persentase pengusaha di Indonesia sebesar 4% (https://m.tempo.co/read/news/2016/05/23/092773404/menangkan-mea-jokowi-ri-perlu-5-8-juta-pengusaha-muda-baru).

Membangun mesin amal jariyah  
Ada Kisah heroik yang patut menjadi teladan kita ketika Usman bin Affan membeli sebuah sumur dari seorang yahudi untuk dikonsumsi penduduk Madinah secara gratis. Penduduk Madinah awal mulanya kesulitan membeli air ke yahudi karena harganya sering dinaikkan sesukanya. Yahudi tersebut memiliki satu-satunya sumur produktif yang ada di Madinah.
Akhirnya Usman bin Affan membeli sumur tersebut melalui negosiasi bisnis yang alot. Tercapailah kesepakatan pembelian sumur tersebut, dimana Usman bin Affan tidak dapat membeli keseluruhan sumur tersebut. Sumur tersebut dapat dipakai satu hari oleh si yahudi, dan satu hari setelahnya dipakai oleh Usman bin Affan, begitu seterusnya dipakai secara bergantian. Usman bin Affan tiba-tiba menggratiskan penggunaan air pada saat jatahnya memakai, otomatis keesokan harinya penduduk Madinah tidak ada yang memerlukan air dan membeli ke si yahudi. Akhirnya si yahudi tersebut menjual sumur seluruhnya kepada Usman.
                Menjadi seorang pengusaha memungkinkan kita memiliki kemampuan yang lebih terutama kemampuan finansial. Dengan kemampuan finansial yang memadai tentu kita bisa membantu banyak orang dan juga perjuangan dakwah seperti yang dicontohkan para sahabat. Usman bin Affan, tanpa kemampuan finansial yang memadai tentu tidak mampu membeli sumur dan mewakafkannya kepada umat. Wakaf yang berupa sumur tersebut akhirnya menjadi mesin amal jariyah yang terus menerus mengalir pahalanya selama masih digunakan oleh umat walaupun Usman bin Affan r.a sudah wafat.

Pengusaha, Kaya Raya Wajar!
                Jika kita melihat daftar orang terkaya di dunia atau di Indonesia, apa kira-kira profesi utama mereka? Tentu hampir seluruhnya berprofesi sebagai wirausahawan atau pengusaha. Jika seorang politisi memiliki kekayaan yang mencengangkan, akan banyak yang mengira itu berasal dari sumber yang tidak benar. Iyakan? Lhawong gajinya bisa dilihat dan dihitung  dengan jelas, itupun tidak seberapa. Begitu juga dengan PNS, guru, karyawan, dll yang memiliki gaji tetap dan jelas perhitungannya akan membingungkan jika memiliki kekayaan luar biasa.
Jadi kalau mereka kaya raya tanpa ada penghasilan dari sumber lain yang jelas dan halal, tentu mencurigakan bukan? Berbeda halnya dengan pengusaha, jika mereka kaya raya mungkin kita akan bergumam “hmmm, wajarlah pengusaha!”. Menjadi pengusaha lantas kaya raya itu wajar! Tapi menjadi karyawan atau politisi dan kaya raya bisa jadi mencurigakan apalagi kalau tidak tahan akan godaan jalan pintas. Di era digital ini penghasilan seorang pengusaha terutama di bidang teknologi tidak hanya memiliki penghasilan yang menanjak seperti umumnya, tapi mampu berlipat secara eksponensial secara grafik.

Cepat meningkatkan kemampuan diri
                Dunia bisnis adalah dunia kompetisi. Saling berkompetisi dan inovasi untuk menjadi leader atau yang terbaik menjadi makanan sehari-hari para pengusaha. Sekali kalah bersaing, maka rugi akan menghantui, bahkan bisa berakhir bangkrut. Inilah yang membuat pengusaha senantiasa belajar dan mengembangkan diri. Umumnya pengusaha belajar multidisiplin ilmu agar bisnisnya bisa berkembang ke berbagai lini. Banyaknya pelatihan bisnis dengan berbagai jenis dan buku bisnis memfasilitasi pengusaha untuk belajar banyak hal tanpa perlu mengenyam pendidikan formal.  
               

Bebas memilih dan bebas membuat aturan
                Menjadi pengusaha bisa berlaku bebas, tapi tetap ada batasannya, terutama tetap dalam koridor syariat agama dan aturan undang-undang. Contoh asyiknya nih, pengusaha dapat menentukan waktu liburan kapan saja. Membuka atau menutup tokonya sesuai keinginan, sehingga lebih luwes jika memiliki agenda mendadak yang lebih mendesak. Aturan-aturan yang berlaku di perusahaannya pun dapat dibuat sesuai keinginan. Bahkan aturan perusahaan miliknya bisa tidak berlaku bagi si pengusaha. Seorang pengusaha juga tidak bingung dengan karirnya, karena memang karirnya tidak pernah naik, selalu menjadi owner. Hal ini membuat pengusaha lebih bebas beraktivitas dan leluasa mengatur waktu yang dimilikinya. 

Peluang Ekonomi Indonesia untuk Maju
                Selain pertimbangan faktor kelebihan dan kekuatan yang dapat dimiliki ketika menjadi pengusaha, kita perlu melihat faktor peluang menjadi pengusaha. Semua hal yang tidak diharamkan dapat diperjual belikan dan diperdagangkan, sehingga peluang berwirausaha secara mendasar tidak akan pernah tertutup. Berdasarkan data baru-baru ini, peluang Indonesia untuk tumbuh pesat perekonomiannya sangat terbuka lebar. Tentu ini bisa jadi angin segar bagi pengusaha untuk melejitkan usahanya.
Berdasarkan estimasi yang dilakukan International Monetary Fund (IMF), pada 2016, perekonomian dunia dikuasai oleh 10 negara, yaitu Cina, Amerika Serikat, India, Jepang, Jerman, Rusia, Brazil, Indonesia, Inggris dan Perancis. Mulai 2016, pertumbuhan ekspor Indonesia diproyeksikan akan berada di atas impor dengan rata-rata pertumbuhan per tahunnya akan mencapai 8,29 persen hingga 2021. Hal ini menunjukkan berkurangnya ketergantungan Indonesia terhadap negara lain. Serta, posisi Indonesia semakin diperhitungkan pada perdagangan dunia.
Price waterhouse Coopers (PwC) melakukan studi terkait posisi emerging market pada tahun 2050. Indonesia sendiri diprediksi akan menempati posisi ke empat sebagai kontributor terbesar GDP dunia mengalahkan Jepang, Jerman dan Inggris. Pada 2050, PwC memproyeksikan nilai GDP Indonesia akan mencapai $10,5 triliun (PPP, Konstan 2016=100) atau tumbuh CAGR 3,38% dari 2030. Nilai GDP Indonesia pada 2030 sendiri diproyeksikan sebesar $5,4 triliun.
Dari pembahasan diatas, banyak kelebihan dan peluang besar yang dapat kita ambil ketika memilih untuk berwirausaha. Pun ketika kita memang memilih karir atau profesi lain, wirausaha dapat menjadi profesi suplemen atau pendamping untuk meraih kesuksesan-kesuksesan di lini lain. Saya sediri dengan menulis tulisan ini semakin bersemangat untuk menjadi wirausahawan sukses. Amin. Dan akhirnya hanya ada satu pernyataan yang pantas menjadi penutup dalam tulisan ini. Jangan berwirausaha kalau tidak siap sukses!. Wallahu ‘alam.


Daftar Pustaka
DailySocial Indonesia TechStartup Report 2016

Santosa, Ippho. 2007. 10 Jurus Terlarang! Kok Masih Mau Bisnis Cara Biasa!. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Rumah Perubahan. 2003. Modul Kewirausahaan s1. Jakarta: Rumah Perubahan.

https://m.tempo.co/read/news/2016/05/23/092773404/menangkan-mea-jokowi-ri-perlu-5-8-juta-pengusaha-muda-baru

http://tirto.id/mengukur-kekuatan-ekonomi-indonesia-tahun-2021-ckj3


*) Penulis adalah Azhar Nasih Ulwan, Ketua PP IPM Bidang Pengembangan Kreativitas dan Kewirausahaan sekaligus pemilik usaha Arto Konveksi