8 Apr 2016

Pokok-Pokok Pikiran Abdul Kahar Muzakir Mengenai Pendidikan Untuk Wanita

Tulisan di bawah ini berasal dari sub tulisan Abdul Kahar Muzakir yang berjudul Rencana Perguruan Tinggi Wanita yakni “Pokok-Pokok Buah Pikiran”. Tulisan ini merupakan salah-satu bagian dari buku Perkembangan Pemikiran Muhammadiyah dari Masa ke Masa diterbitkan oleh Dua Dimensi tahun 1985 di Yogyakarta.

Tulisan ini dikemukakan kembali mengingat pada tanggal 10 Maret 2016, Universitas ‘Aisyiah (Unisa) Yogyakarta telah diresmikan. Tentu saja ini merupakan salah-satu perkembangan baik bagi organisasi sosial berbasis keagamaan di Indonesia. Universitas Islam swasta pertama di Indonesia yang ditujukan bagi perempuan. Dalam mengapresiasi kemajuan inilah tulisan Abdul Kahar Muzakir kami ketengahkan.

Pertama, adalah suatu kewajiban suci bahwa kita umat Islam yang merupakan bangsa Indonesia yang besar ini, oleh Allah Swt dikaruniai iman dan Islam dan dijadikan wasath dan khoiru ukhrijat linnas, yang mana agama dan idiologi Islam sudah sejak empatbelas abad lalu memberikan pedoman-pedoman hidup yang mulia dan bermutu tinggi. Islam yang semenjak lahirnya, memberi tugas wajib belajar yang sama baik bagi pria maupun bagi wanita.

Ayat-ayat al-Qur’an dan sunnah Rasulullah mengenai kewajiban belajar senantiasa berlaku dari dahulu hingga kini, bahkan sepanjang masa.

Ilmu dan pengetahuan selama-lamanya menjadi sendi dan dasar tiap-tiap tindak terutama untuk kemajuan masyarakat Indonesia. Umat Islam terutama untuk kemajuan masyarakat dan negara di mana kaum Muslimin pun semenjak lahirnya selalu membuktikan dengan bukti-bukti yang berharga.

Kedua, di tanah air Nusantara Indonesia, umat Islam terutama yang bernaung di bawah panji gerakan kita, Muhammadiyah dengan bukti yang nyata baik sebelum maupun sesudah Indonesia Merdeka, mengambil bagian dalam pengajaran dan pendidikan pula. ‘Aisyiyah sebagai garwa Muhammadiyah, tidak ketinggalan dalam memajukan bidang pengajaran dan pendidikan pula. Usaha-usaha ‘Aisyiyah dalam bidang tersebut terbukti tidak demikian ketinggalan.

Ketiga, selain ajaran al-Qur’an dan sunnah, ajaran-ajaran asuhan guru mursyid kita, KH. Ahmad Dahlan Rohimahu Allah, di Indonesia sungguh sangat berguna dan layak menjadi teladan. Beliau sejak pagi-pagi telah memberi pengajaran dan pendidikan kepada kita bukan saja dalam bidang agama akan tetapi dalam bidang usaha-usaha kemajuan duniawiyah pula.

Keempat, Madrasah Mu’alimat adalah hingga kini merupakan suatu perguruan kita yang masih dapat kita pertanggungjawabkan dalam tujuan  menghasilkan pendidikan wanita Islam. Madrasah Mu’alimat sudah 40 tahun kita dirikan. Banyak benar sudah hasil madrasah yang tersiar dan berkembang sampai ke Merauke sebagai ibu keluarga yang utama, guru yang rajin, mubaligh yang patuh, pemimpin yang setia di samping sebagai pedagang yang bonafid, pengusaha yang produktif dan sarjana yang terpelajar tinggi, dan di samping sebagai muslimah yang taat.

Kelima, Indonesia kini telah menjadi suatu negara yang besar. Bangsa Indonesia pun suka atau tidak, telah harus menjadi bangsa yang besar. Dalam pada itu kaum muslimin dan muslimat harus pandai menempati kedudukan culturil yang sepadan di arena bangsa lain sesuai pula sebagai khoiro ummat ukhrijat linnas. Ke dalam (Indonesia) merdeka hendaknya jangan ketinggalan atau terdesak oleh lain-lain golongan.

Kesemuanya itu menghendaki umat Islam harus pula dapat menyelenggarakan tenaga ahli dalam bidang-bidang yang diperlukan. Kaum muslimat terutama kaum ‘Aisyiyah yang sudah memiliki banyak-sedikit pengalaman-pengalaman dalam alam kemajuan kemasyarakatan dirasakan perlu menyelenggarakan perguruan untuk ahli wanita yang tetap gigih memegang teguh ajaran-ajaran Islam.

Keenam, tenaga ahli dari wanita Islam dan juga sekarang diperlukan guru-guru menengah, dosen, dokter, dokter gigi, apoteker wanita, sarjana hukum, pengacara, ahli-ahli seni yang tak keluar dari ajaran Islam, ahli sastra, pegawai negeri atau swasta, ahli sejarah, ahli ilmu bumi, ahli ekonomi, dan dagang dan isteri diplomat dan lain-lain.

Untuk memenuhi calon-calon di atas, Madrasah Mu’alimat yang secara praktek dan kenyataan sudah dapat menyumbangkan tidak sedikit tenaga-tenaga dalam masyarakat kita, baiklah kita pelihara dan kita atur kembali dengan tujuan-tujuan baru dan rencana pelajarannya, dengan tidak meninggalkan adab dan kesusilaan Islam, baik dalam akhlak maupun pakaian yang sesuai dengan syarat-syarat pakaian Islam. 

(@FauAnwar)