JANJI PELAJAR MUHAMMADIYAH

  • Berjuang Menegakkan Ajaran Islam

  • Hormat dan Patuh Terhadap Orangtua dan Guru

  • Bersungguh-sungguh dalam Menuntut Ilmu

  • Bekerja Keras, Mandiri, dan Berprestasi

  • Rela Berkorban dan Menolong Sesama

  • Siap Menjadi Kader Muhammadiyah dan Bangsa

KHAZANAH

20 Jul 2017

Fortasi Sekolah Muhammadiyah Aman Perpeloncoan


Peserta didik baru adalah tamu teristimewa disetiap sekolah yang ada di Indonesia, meraka harus disambut dengan santun dan ramah, sehingga mereka merasa betah dan nyaman dengan rumah keduanya (sekolah), yang akan menjadi tempat dia mencari ilmu selama bertahun-tahun. Memberikan pemahaman awal tentang budaya dan tata tertib sekolah menjadi modal dasar penting yang harus diterima oleh peserta didik baru dari sejolah sebelum mereka akan mengenal lingkunagn sekolahnya secara mandiri atau otodidak.

Fortasi (Forum Ta’aruf dan Orientasi Siswa) atau yang dikenal dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sering kita lihat jauh dari tujuan pelaksanaan, sebagai contoh siswa baru di perintahkan untuk menggunakan atribut-atribut yang kurang mendidik seperti mengikat kepala menggunakan tali rafia, menggunakan tas kardus, kaos kaki belang-belang dan lainya sebagainya. Saya menilai itu hanya ajang perpeloncoan dan bahkan menurunkan harkat martabat peserta didik baru. Ini saya khawatirkan menggunakan kata kreatifitas untuk dijadikan kedok dalam melakukan perpeloncoan peserta didik baru. Saya justru punya ide jika siswa baru diperintahkan menggunakan pakaian adat setempat atau pakaian sesuai cita-cita mereka. Contohnya jika mereka punya cita-cita jadi polisi, maka mereka diperkenankan menggunakan seragam polisi dan lain sebagainya, justru itu lebih mendidik dan menumbuhkan jiwa nasionalisme dan cinta akan kebudayaan daerah.

Jika kita melihat senior-senior yang suka membentak kemudian memberikan sanksi-sanksi yang bertujuan untuk membuat lelucon, justru akan menurunkan mental peserta didik baru karena merasa dipermalukan di depan umum, seperti dengan sanksi berjoget, mengungkapkan perasaan lawan jenis bahkan ada yang di hukum untuk mengungkapkan cinta sesama jenis. Tentu ini kurang mendidik, sedangkan masih banyak ide yang lebih kreatif dan bisa meningkatkan daya kritis peserta didik baru.

Menghadirkan pemateri yang menarik dan memunculkan permainan yang seru akan membuka wawasan peserta didik baru yang telah meninggalkan masa SMP/MTs. Kegiatan menanam pohon, dan mengumpulkan makanan atau bantuan yang kemudian disedekahkan kepada masyarakat kurang mampu justru akan meningkatkan kepekaan siswa baru terhadap permasalahan sosial.

IPM sendiri mengangkat 3 (tiga) tema dalam pelaksanaan fortasi yaitu, Ekologi, Literasi dan Kemandirian Pelajar. Tema ini kemudian dikembangkan menjadi ide-ide menarik yang tidak memberatkan peserta didik baru dalam mengikuti pengenalan lingkungan sekolah tersebut. Khususnya disekolah Muhammadiyah yang ada di Kalimantan Barat, IPM telah mengintruksikan kepada Pimpinan Ranting di sekolah Muhamamdiyah untuk menerapkan tema tersebut dengan memanfaatkan media masa yang ada.

Dalam tema Ekologi (Lingkungan), peserta didik baru diperintahkan membawa tanaman jenis bunga, buah dll yang kemudian mereka selfie dan mengupload foto tersebut ke akun media mereka masing-masing dengan menulis keterangan dari manfaat tanaman tersebut. Tema literasi peserta didik baru diperintahkan membawa buka layak baca yang telah mereka baca kemudian difoto dalam tempat atau icon dari daerahnya masing-masing kemudian di upload dalam akun media masa mereka masing-masing. Kemudian buku ini diharapkan dapat disumbangkan kerumah baca atau dijadikan pojok baca kelas. Tema dan ide ini kami nilai sangat mendidim dan tidak membertkan peserta didik baruh, bahkan mereka merasa ini lebih kekinian karena memanfaatkan media untuk menyelesaikan tugas mereka masing-masing. Dalam tema kemandirian pelajar peserta didi baru diperintahkan embawa barang/makanan/minuman 5-10 pcs yang kemudian mereka diberikan waktu 1-2 jam untuk berjualan disekolah dengan menawarkan dagangannya kepada teman, kakak kelas bahkan dewan guru dan kepala sekolah. kami menilai ini sangat bagus untuk menumbuhkan semangat berwiausaha. Selain itu mereka akan berinteraksi lebih dekat dengan warga sekolah.

Harapannya masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) atau Forum Ta’aruf dan Orientasi (FORTASI) ini dapat dilaksanakan sesuai tujuannya, dengan memunculkan ide-ide kreatif yang dapat membangkitakan nalar kritis mereka. Bukan justru melakukan perpeloncoaqn dengan kedok kreatifitas. Sangat disayangkan jika kegiatan ini justru malah menibulkan dendam atau permusuhan antara kakak kelas dan adik kelas seperti yang sering kita lihat di dunia kampus.

*) Penulis adalah Santoso Setio, Ketua Umum PW IPM Kalimantan Barat

19 Jul 2017

Spesial buat kamu, yang lagi Milad


Wah.......tidak menyangka, teman yang satu ini sudah tambah lagi usianya, sekarang kau sudah 56 tahun. Karyamu begitu nyata, asyik dan indah mempesona. Cara bergaulmu menyenangkan, tak membosankan dan suka tertawa. Pokoknya ketika aku denganmu, aku tak akan bosan-bosannya untuk bersamamu dan rasanya tak ingin melepas ikatanmu. Itulah kamu. Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).

Mana mungkin semua orang tidak berkesan denganmu, yang bisa memberikan kenangan manis, yang bisa mengumpulkan teman-teman sebaya, yang bisa mengenalkan serta berbicara dengan pejabat-pejabat negara, yang bisa membuatku keluar malam keluyuran, dan yang bisa membawa manfaat. Hanya kamu, tempatnya berkumpul para sahabat sejati, tempatnya pelajar-pelajar terkini, tempatnya pelajar yang tidak kalah gaul dengan orang-orang barat, pokoknya semuanya yang menyenangkan, mengasyikkan itu menggambarkan tentang kamu.

Sudah setengah abad lebih kamu bertahan. Jutaan pengalaman manusia terkumpul karenamu. Sedih, susah, asyik, rumit, mangkel, ingin berantem, nyolot, dan semuanya sifat orang engkau kumpulkan. Ribuan pemikiran untuk membangun negeri telah kau sumbang, mulai dari tempat tinggal, lingkungan, sampai permasalahan besar yang negeri ini rasakan. Ratusan pelopor tercetak karenamu, didikanmu, pengalamanmu, dan dinamikamu. Puluhan ormas-ormas islam ingin sepertimu, bekerja sama denganmu agar saling senantiasa berkolaborasi dakwah denganmu.

Belasan personil-personil bintang di setiap pimpinan kau asah otaknya, kau adu dan kau tantang. Dan satu, aku sangat berterima kasih dan mencintaimu. Terima kasih yang telah mempertemukanku dengan orang-orang hebat, berkumpul dengan pelajar-pelajar giat, menjadikanku pribadi yang lebih berkarakter, lebih percaya diri, bisa mengatur waktu, dan apapun yang tak bisa kusebut satu per saatu. Mencintaimu dalam artian cara dakwahmu, karya nyatamu, akhlakmu dan semuanya ketika mengenang jasamu aku merasa rindu.

Di Miladmu yang 56, aku berharap engkau lebih aktif dalam menyumbangkan pemikiran untuk Indonesia, engkau lebih berarti dalam kehidupan masyarakat, engkau lebih memperhatikan kepedulian terhadap sesamamu. Aku yakin, personil-personilmu bisa melakukan semua ini, mencetak generasi bangsa yang cerdas berarakter islami, sehingga nanti turut mewujudkan NKRI yang amat berarti.



*) Penulis adalah Azmi Izzudin, Ketua PR IPM SMA Muhammadiyah 10 Surabaya Bidang Kajian Dakwah Islam

IPM KALBAR : Deklarasikan Sekolah Aman Perpeloncoan

IPM.OR.ID - SAMBAS, SMA Muhammadiyah Kabupaten Sambas menyelenggarakan kegiatan  Forum Ta’aruf Orientasi dan Orientasi Siswa (FORTASI) dan Pembukaan perayaan milad IPM  yang ke-56 tahun, Senin (17/7).

Kegiatan yang di mulai tepat pukul 07:00 WIB bekerja sama dengan Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Kalimantan Barat.

Berawal dengan siswa baru melakukan pawai dengan diiringi Marching Band Hizbul Wathan Buana Surya, dilanjutkan dengan Apel Milad yang di hadiri Kepala SMA Muhammadiyah Bpk Romsidi S.pd.i.M,  Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kab.  Sambas Bapak Minhani SE, Ketua Umum PW IPM Kalimantan Barat Santoso Setio beserta para dewan guru ,Staf dan siswa/i SMA Muhammadiyah Sambas.

Mengangkat tema “Membangun Spirit Gerakan Berkemajuan Wujudkan Pelajar Berkarya Nyata” PW IPM Kalimantan Barat mendeklarasikan sekolah aman perpeloncoan, karena kasus ini terjadi setiap tahun bahkan diperkirakan meniningkat jika tidak ada pencegahan. .

FORTASI yang berlangsung selama 3 hari dimulai dari tanggal 17-19 Juli 2017 bertujuan memberi wadah kepada peserta didik baru untuk mengenal linkungan sekolah , membangun minat dan mau menjalakan agama Islam yang baik dan benar , mempunyai semangat untuk mengembangkan diri baik secara intelektual, skill , maupun sosial . Peserta akan mendapatkan beberapa materi yang akan disampaikan oleh IPM, pihak sekolah maupun dari pihak luar seperti Kepolisian dan materi kesehatan.

Hari terakhir para siswa baru akan diarahkan untuk berbagi kepada masyarakat kurang mampu dilingkungan Tumuk Manggis-Sambas. Sesuai arahan surah Al-Maun yang menuntut siswa untuk peka terhadap kondisi di masyarakat sekitar.

Kusmayuda selaku ketua panitia mengungkapkan bahwa "FORTASI ini bertujuan untuk mengenalkan kepada siswa baru terhadap lingkungan sekolah seperti budaya dan tata tertib sekolah agar siswa merasa betah dan paham akan kondisi sekolah barunya"

"Dalam kegiatan ini juga siswa baru akan di dampingi oleh Wakil Kepala Bidang Kesiswaan bapak Sadoni dan pengurus PR IPM SMA Muhamadiyah Sambas hingga kegiatan ini selesai hari rabu nanti" Ucap Yuda yang juga menjabat sebagai Ketua Umum PR IPM SMA Muhammadiyah Sambas tersebut.

Arizal selaku siwa didik baru juga mengungkapkan “Saya sangat senang dan bangga  mengikuti FORTASI ini karna banyak ilmu yg telah di berikan , tidak seperti masa orientasi pada umumnya, kami menerima ilmu dari berbagai narasumber yg asik dan membawa  beberapa barang seperti membawa novel, tumbuhan dan barang lainya yang dapat dimanfaatkan dalam waktu jangka panjang “, ungkap Arizal.

Santoso Setio Ketua Umum PW IPM Kalimantan Barat dalam sambutannya berpesan "Agar siswa/i baru untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin selama bersekolah di SMA Muhammadiyah, siswa harus dapat mengharumkan nama sekolah dengan mengukir prestasi sesuai dengan bakan dan minat masing-masing. Pelajar muhammadiyah akan menjadi generasi penerus perserikatan muhammadiyah, bangsa , negara, dan agama", ucap Santoso.

Kepala sekolah mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh PW IPM Kalimantan Barat  yang bekerja sama dengan SMA Muhammadiyah Sambas

"kegiatan pada pagi ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karna PW IPM Kalimantan Barat memusatkan pembukaan FORTASI sekolah muhammadiyah se-Kalimantan Barat di Sambas bertepatan pula dengan milad IPM ke-56 yang jatuh pada tanggal 18 juli 2017.  Dan yang tidak kalah penting sekolah Muhammadiyah mendeklarasikan sekolah aman perpeloncoan", ungkap kepala sekolah dalam sambutannya.

Kegiatan pembukaan diakhiri dengan pelepasan balon udara yang dipimpin oleh bapak Minhani S.E selaku Ketua PDM Sambas, beliau menutuskan selamat dan sukses atas pelaksanaan FORTASI sekolah muhammadiyah se-Kalbar dan Milad IPM ke-56. Dengan mengajak peserta meneriakkan IPM JAYA.

Taruna Melati 2 IPM Jogja Hasilkan Abdi-abdi Persyarikatan




IPM.OR.ID - YOGYAKARTA, Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah​ (PR IPM) Madrasah Mu'allimin-Mu'allimaat Muhammadiyah Yogyakarta bersama PD IPM Kota Yogyakarta melaksanakan Pelatihan Kader Taruna Melati 2 (PKTM 2)
Dilaksanakan selama 4 hari dari tanggal 11 Juli sampai denan 14 Juli 2017 bertempat di SMK Muhammadiyah Moyudan, Sleman, D.I Yogyakarta

Bertambahnya Lulusan-lulusan sekolah kader yang seharusnya memiliki kemampuan mengelola dan meneruskan estafet kepemimpinan baik di Daerah maupun di Ranting hingga ke ranah Pusat, dengan demikian banyak diantara mereka yang enggan dan memilih untuk fokus kepada sekolah, dan dampaknya banyak daerah-daerah yang masih belum terjangkau dan tidak ada perkembangan IPM.

Adanya pelatihan ini agar mereka lulusannya dapat mengembangkan IPM dengan maksimal dan tidak hanya kekurangan kader sehingga IPM semakin maju dan berkembang hingga ranah terkecilpun.

Peserta diharap dapat lebih jauh mengenal IPM khususnya mengenai bagaimana keadaan dan perkembangan IPM sekarang,juga menunjang keberadaan mereka nantinya pada saat mengabdi sebagai kader IPM.

Dengan mengusung tema "Abdi Persyarikatan Generasi Cendekiawan" membuat semakin kuat tekad mereka untuk mengembangkan muhammadiyah di ranah pelajar, ketua acara PKTM 2, Racha Julian Chairurrizal juga berpesan bahwa penanaman modal selama pelatihan semoga terealisasi dan tidak hanya menjadi wacana saja dan sesuei dengan tema yang kita junjung.

Ketua Umum Pimpinan Pusat IPM Velandani Prakoso, di sambutannya menyampaikan "Seorang Kader itu harus memiliki daya tahan dan daya juang yang kuat terutama para kader IPM", ucap Andan.

Munawwar Kholil Ketua Umum Pimpinan Pusat IPM Periode 2002-2004 dalam materinya menyampaikan "Kader itu adalah rekayasa sosial yang bentuk oleh Muhammadiyah​ agar mereka bisa menjadi pelopor, pelangsung dan penyempurna agama", terang Munawwar.

Bapak Akhid Widi Rakhmanto Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah KotaYogyakarta menyampaikan "Nikmati proses berorganisasi karena dengan berorganisasi kalian akan mendapat banyak manfaat nantinya di masa depan", pesan ketua PDM dalam materinya.

1 Jul 2017

ASBO PPIPM Tanggapi Kontroversi Film "Kau adalah Aku yang Lain"

Kau adalah Aku yang Lain

Jakarta, IPM.OR.ID - Beberapa waktu lalu jelang Hari Raya Idul Fitri 1438 H akun resmi Polisi Republik Indonesia (POLRI) membagikan sebuah tautan film pendek berjudul “Kau adalah Aku yang Lain” sebagai pemenang Police Movie Festival IV Tahun 2017. Setelah proses penyebarluasan tautan berjalan, cukup banyak bagian dari masyarakat tersentak dengan adanya film pendek tersebut. Karena konten pada film “Kau adalah Aku yang Lain” tersebut menuai kontrovensi dan aroma judging terhadap umat Islam begitu terasa dalam setiap adegannya.

Setelah rangkaian peristiwa tersebut, PP IPM sebagai sebuah organisasi pelajar melalui Bidang Apresiasi Seni Budaya dan Olahraga (ASBO) melakukan beberapa diskusi mendalam melihat berbagai adegan yang muncul dalam film tersebut. Melalui framing dalam film ini, umat Islam terlihat sangat intoleran karena tidak mau membuka jalan untuk mobil ambulans dalam keadaan darurat. PP IPM memandang adanya proses penggiringan opini masyarakat pada film pendek tersebut. Parahnya, penggiringan opini yang ada mengarah pada fitnah dan kebohongan publik yang menyorot umat Islam, dimana umat Islam pada film tersebut dicitrakan tidak toleran dan berpikir ekslusif bahwa kemanusiaan hanya untuk orang-orang yang seagama.

“Sebagai sebuah media pembelajaran masyarakat, contoh semacam ini tidak baik jika dilakukan. Ketika Pancasila menjunjung tinggi nilai Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama, maka konsekuensi logisnya adalah kehidupan masyarakat dibalut dengan nilai – nilai agama yang luhur dan tidak dapat dipisahkan satu dan lainnya, termasuk dalam hal toleransi antar kelompok masyarakat. Proses yang merusak kepribadian luhur Pancasila, toleransi antar kelompok masyarakat, dan tema 'Unity in Diversity' terdapat dalam film ini, sehingga semestinya film ini tidak layak dijadikan sebagai pemenang dan disebarluaskan,” tegas Ketua PP IPM Bidang ASBO Fathya Fikri Izzuddin dalam pernyataannya terkait dampak dari film “Kau adalah Aku yang Lain”

PP IPM mengapresiasi upaya POLRI dalam melakukan proses pendidikan masyarakat agar dapat menjunjung tinggi nilai – nilai luhur bangsa sehingga menciptakan toleransi di tengah masyarakat. Juga meminta agar POLRI dapat segera melakukan klarifikasi sebagaimana dijanjikan oleh Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto. Karena meskipun film ini sudah dihapus dari laman resmi POLRI namun telah tersebar luas di tengah masyarakat.

PP IPM juga menghimbau agar seluruh elemen masyarakat termasuk pelajar didalamnya bersama-sama menjaga kebhinnekaan yang dibalut nilai luhur bangsa Indonesia sehingga mencegah disharmoni kelompok masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.(nab)

Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) : Pendidikan Indonesia Berkualitas



Dalam perjalanannya, Pendidikan Indonesia mengalami banyak sekali perubahan sejak awal kemerdekaan nya hingga saat ini. Hari – hari terakhir ini kita disibukkan oleh maraknya pembahasan terkait aturan hari sekolah yang baru saja di keluarkan oleh Menteri Pendidik Dan Kebudayaan beberapa waktu yang lalu melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.23 Tahun 2017 tentang Hari sekolah. Penulis merasakan bahwa hari ini banyak rakyat Indonesia justru terombang – ambing oleh banyak opini pro dan kontra tanpa tau apa sebenarnya esensi yang ada di balik Permendikbud No.23 Tahun 2017. Mengapa penulis dapat katakan ini Karena beberapa waktu ini penulis merasakan ada nya penggiringan Opini pemahan permendikbud No.23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah sebagai sebuah hal yang kaku. Namun mari kita letakkan sejenak ketegangan ini dan mari kita telaah Bersama sebagai sebuah proses Muhasabah mencari Ridha Allah.


Permendikbud No.23 Tahun 2017 tentang hari sekolah muncul sebagai metode realisasi program nawa cita Pemerintah Presiden Joko Widodo nomor 8 tentang Penguatan revolusi karakter bangsa melalui budi pekerti dan pembangunan karakter peserta didik sebagai bagian dari revolusi mental yang diejawantahkan menjadi program penguatan Pendidikan karakter oleh Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia. Dalam metode ini perlu dapat kita pahami bahwa terdapat beberapa kata kunci penting untuk dapat memahami metode ini sebagai sebuah metode yang luwes di tawarkan oleh pemerintah untuk dapat mengejawantahkan nawa cita poin 8 diatas.

Pertama, haruslah kita pahami bahwa terdapat perbedaan pada kata jam yang merujuk pada dua hal yaitu jam kerja aparatur sipil negara yang di jelaskan dalam Undang – Undang lain yaitu 60 Menit = 1 Jam dan jam pelajaran sekolah yang diatur dalam Undang – Undang penyelenggaraan Lembaga Pendidikan. Dalam hal ini 5 hari sekolah membuat guru dapat menyelesaikan beban kerjanya yang 40 Jam dalam satu minggu itu hanya hingga hari Jumat saja seperti aparatur sipil negara di Institusi lain, tentunya ini berbeda dengan jam pelajaran siswa yang satu jam pelajarannya memiliki satuan baku lain ( tidak 60 Menit) yang berbeda tiap tingkatannya. Sehingga asumsi bahwa seluruh tingkatak akan diseragamkan bersekolah hingga pukul 15.00 WIB itu hanyalah asumsi yang tidak sedikitpun tercantum dalam permendikbud No.23 Tahun 2017.

Kedua, terdapat beberapa poin penting yang menyatakan bahwa keputusan tentang 5 hari sekolah dalam seminggu dan 8 jam dalam sehari ini dilakukan secara bertahap dan melihat kearifan lokal atau kondisi lingkungan sekitar sehingga bagi institusi Pendidikan baik tingkat dasar menengah dan atas dapat melakukan berbagai hal dalam rangka menanggapi serta menyesuaikan permendikbud ini sehingga dalam praktik kedepannya perlu banyak koordinasi dan rapat lanjutan baik dengan pemerintah setempat, dan institusi lainnya yang sesuai kewenangannya dapat menunjang institusi Pendidikan tersebut agar dapat terjalin kolaborasi dan koordinasi yang baik sehingga dapat memaksimalkan fungsi sekolah sebagai institusi Pendidikan untuk dapat melakukan penguatan Pendidikan karakter anak – anak bangsa. Sehingga walau Peraturan Menteri ini terlihat kaku namun ternyata terdapat keluwesan yang cukup apik dan akomodatif termaktub dalam poin – poin lainnya sehingga kedepannya kebijakan yang dianggap dapat mekamsimalkan aspek – aspek hak dan Psikologis anak sebagai objek dan subjek dari sebuah pendidikan ini dapat berjalan dengan baik tanpa ada yang merasa terdzalimi serta tanpa meninggalkan kearifan lokal sebagai sebuah jati diri dan potensi.

Sebagai Contoh seperti pada fenomena madrasah diniyah dan lembaga Pendidikan non formal yang lainnya kedepan dapat saling bersilaturahim dengan pihak sekolah sehingga dapat ditemukan pola – pola kolaboratif yang tepat di daerahnya masing – masing agar dapat menjalankan kurikulum nya secara terintegrasi dan perlu diingat bahwa Program penguatan Pendidikan karakter dapat dilakukan diluar ruang kelas sehingga penulis rasa ini hanyalah sesuatu yang berkaitan dengan penguatan pola komunikasi dan silaturahim antar Institusi saja tah dalam permendikbud ini itu yang diharapkan agar ada peran dari lingkungan sekitar Institusi Pendidikan formal untuk dapat saling mensukseskan program penguatan Pendidikan karakter ini . sehingga asumsi penyeragaman corak dan pendzaliman terhadap kearifan lokal itu nampaknya kurang tepat di sematkan pada Permendikbud ini Karena jika kita lihat Permendikbud ini hanya menjadi sebuah grand Desain dari pengejawantahan ide besar pemaksimalan fungsi sekolah sebagai tempat penanaman karakter pelajar.

Ketiga bahwa terdapat tiga aspek penting dalam permendikbud No.23 Tahun 2017 yaitu terkait dengan Pendidikan karakter yaitu kegiatan Intrakulikuler, kokulikuler, dan Ekstrakulikuler nah hal ini yang sering dilupakan dalam diskusi – diskusi beberapa hari ini yang sebenernya juga diatur dalam permendikbud ini bahwa setiap Institusi Pendidikan formal wajib memasukkan tiga aspek pembelajaran ini dalam kebijakan hari sekolahnya dalam seminggu, ketentunan ini diperkuat juga dalam permendikbud No.23 Tahun 2017 pasal 10 ayat 2 yang menyatakan bahwa bagi sekolah yang tidak dapat melaksanakan metode 5 hari sekolah tersebut haruslah tetap melaksanakan ketentuan jam sekolah dengan beban jam belajar kurikulum dan melaksanakan kegiatan kokulikuler dan ekstrakulikuler dalam poin ini dapat kita lihat bahwa memang selain jam dan hari sekolah namun juga diatur tentang konten dari hari sekolah tersebut. Sehingga menurut penulis sangat tidak beralasan jika institusi Pendidikan non formal dalam hal ini dianggap sebagai korban dari kebijakan ini justru sebagai sebuah metode untuk dapat menanamkan Pendidikan karakter sangat diperlukan adanya kolaborasi dari berbagai macam hal diluar kurikulum formal (Intrakulikuler) oleh Karena itu terdapat dua aspek penting lainnya dalam pendidikan yaitu Kokulikuler, dan Ekstrakulikuler sebagaimana kegiatan Pendidikan non formal Madrasah Diniyah dimana religiusitas / pemahaman agama sangatlah penting sebagai aspek Pendidikan karakter pelajar di Indonesia, kursus keterampilan, serta seperti kegiatan Kepanduan Hizbul Wathan, Kegiatan Pancak Silat Tapak Suci, dan kegiatan berorganisasi melalui Ikatan Pelajar Muhammadiyah, dan kegiatan lainnya yang bertujuan untuk pendalaman kompetensi, kemampuan, serta pengembangan minat, bakat, dan potensi para pelajar. Sehingga proses pelajar sebagai objek dan subyek Pendidikan dapat berjalan dengan baik, pelajar dapat dengan luwes melakukan pengembangan dirinya sebagai sebuah nilai penanaman karakter.

Terakhir sebelum penulis menutup tulisan ini, terdapat beberapa simpulan dari beberapa poin yang sudah penulis paparkan bahwa program penguatan Pendidikan karakter memang bukanlah sebuah barang baru Karena metode ini sudah banyak diterapkan oleh institusi Pendidikan formal di Indonesia termasuk Muhammadiyah dalam hal ini yang tak kenal Lelah mencerdaskan bangsa sejak kelahirannya melalui berbagai institusi pendidikannya, namun sebagai sebuah refleksi dan strategi grand desain Pendidikan nasional hal ini sangatlah baik dan refolusioner serta harus segera di realisasikan keseluruh wilayah Indonesia sebagaimana nawa cita yang di susun oleh Presiden Joko Widodo dalam pemerintahnya kali ini sehingga revolusi mental yang di gadang – gadang pada periode ini dapat terejawantahkan dengan sangat apik melalui dunia Pendidikan yang berkualitas mengembangkan tiap – tiap potensi pelajar. Selanjutnya akan sangat baik jika Presiden Joko Widodo dapat memperkuat aturan -  aturan Pendidikan sebelumnya yang dikeluarkan oleh kemendikbud melalui perpres yang akan dikeluarkan sebentar lagi agar dapat memperjelas pengejawantahan program penguatan Pendidikan karakter ini serta memperluas kewenangan dari aturan itu sendiri sebagai sebuah kekuatan baru dunia Pendidikan Indonesia yang berkemajuan namun sebagai sebuah perpres penulis berharap hal ini nantinya tidak akan bersifat instruksional namun bersifat esensial sebagai sebuah grand desain Pendidikan Indonesia yang berkemajuan sehingga tidak membelenggu kreatifitas dan kearifan lokal setiap wilayah di Indonesia sebagaimana opini – opini yang beredar saat ini.  

Semoga apa yang penulis tulis ini dapat menjadi wujud refleksi dari kita semua agar spirit Pendidikan olah hati (etik), olah pikir (literasi), olah rasa (estetik), dan olah raga (kinestetik) muncul dalam setiap denyut nadi pendidikan Indonesia yang berkualitas serta berkemajuan sehingga dapat memiliki daya saing yang tinggi.

Insya Allah semoga seluruh Ikhtiar ini di catat sebagai amal baik oleh Allah SWT

Bandung, 30 – 06 – 2017
Fathya Fikri Izzuddin
Ketua PP IPM
Bidang Apresiasi Seni Budaya Dan Olahraga

20 Jun 2017

IPM Tuban Menjadi Kiblat Perkaderan di Jawa Timur


IPM.OR.ID - TUBAN, Guna mewujudkan pergerakan pelajar di Tuban, Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PD IPM) Tuban adakan Pelatihan Kader Taruna Melati 2 (PKTM 2). Bertemakan “Menumbuhkan Generasi Berkemajuan, Menciptakan Gerakan Berkelanjutan”, pelathan kader ini bertempat di SD Muhammadiyah 1 Bancar Kabupaten Tuban.

Selama 4 hari (17-20/6) sebanyak 30 peserta yang terdiri 25 dari Tuban dan 5 dari luar Tuban (Lamongan, Gresik, Surabaya, Ponorogo dan Tangerang Selatan).

Peseta dibekali dengan materi yang sesuai dengan Sistem Perkaderan IPM (SPI). Hal itu dibuktikan dengan mendatangkan 3 pemateri dari Bidang Perkaderan Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Jawa Timur dan Ketua PW IPM Jawa Timur. Selain itu materi yang disampaikan meliputi “Analisis Sosial dan Apriciative Inquiry”, “Tauqid Sosial”, “Paradigma Pergerakan Pelajar”, dan “Manifestasi Gerakan Pelajar Berkemajuan”.

Tak hanya itu, peserta juga memperolah materi mengenai “Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM)” dari Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Tuban, dan materi mengenai “Analisis Kebijakan Pendidikan” yang disampaikan langsung oleh Ketua Majelis Dikdasmen PDM Tuban dan ditutup dengan motivasi dari Drs. H Kuswiyanto, M. Si. (DPR RI Dapil IX).

Rifqi Argadianto selaku Sekretaris Umum PD IPM Tuban dalam penutupan PKTM 2 mengatakan  “Jawa Timur itu besar dan luas, siapa yang tak kenal dengan Surabaya dengan aneka ragam pergerakkannya, siapa yang tak kenal Malang dengan UMM-nya, atau bahkan Lamongan yang tak terhitung lagi banyaknya kader yang dimiliki.

"Kita semua tau semua orang Islam berkiblatkan pada Makkah Al-Mukaromah, dan secara letak geografi Indonesia terletak disebelah timur Makkah. Kesimpulannya Jawa Timur berkiblat pada Makkah yang mengahadap ke barat, dan secara territorial Tuban merupakan daerah di bagian barat Jawa Timur. Dan harapan kami, semoga dengan terlaksannya kegiatan ini Tuban dapat menjadi Kiblat Perkaderan di Jawa Timur” pungkas Rifqi.

Pada pelaksanaanya, peserta dilibatkan dalam berbagai kegiatan, tak terkecuali dalam pelaksanaan beribadah. Peserta  dilibatkan untuk memberikan Kuliah Tuju Menit  (Kultum) setelah pelaksannan sholat. Tak hanya sampai disitu, peserta juga diberi kesempatan untuk menjadi Imam sholat fardhu dan sholat Tarawih. (*) (anf)